Review Film Lady Bird. Rilis 2017, Lady Bird tetap jadi salah satu coming-of-age paling tajam dan hangat dalam 20 tahun terakhir. Film debut solo Greta Gerwig ini ceritakan tahun terakhir SMA Christine “Lady Bird” McPherson di Sacramento tahun 2002, dengan segala drama remaja: ingin kabur dari rumah, ingin jadi keren, ingin dicintai, tapi paling utama ingin diterima apa adanya. Di 2025, film ini masih sering ditonton ulang karena terasa seperti surat cinta sekaligus surat protes buat ibu dan anak perempuan di mana saja. REVIEW KOMIK
Cerita yang Terasa Seperti Hidup Beneran: Review Film Lady Bird
Lady Bird ingin keluar dari Sacramento (“sisi barat Midwest Amerika”) dan masuk universitas bergengsi di pantai timur. Dia berantem sama ibunya, jatuh cinta dua kali (yang pertama pura-pura, yang kedua bikin sakit hati), ganti gaya rambut pink, ikut teater, sampai bohong soal alamat rumah biar kelihatan kaya. Semua klise remaja itu ada, tapi Gerwig bikin jadi segar karena nggak pernah menghakimi karakternya. Film ini lucu banget di satu menit, lalu tiba-tiba bikin sesak di menit berikutnya—seperti hidup SMA yang beneran. Ending di gereja New York dan telepon ke rumah jadi salah satu penutup paling manis sekaligus paling nyesek di film remaja.
Penampilan yang Bikin Semua Karakter Hidup: Review Film Lady Bird
Saoirse Ronan sebagai Lady Bird luar biasa—dia bikin kita suka sekaligus kesel sama karakternya dalam waktu bersamaan. Laurie Metcalf sebagai Marion, ibunya, adalah jantung film ini; setiap adegan berantem mereka terasa seperti nyata, apalagi saat Marion diam-diam menangis di bandara. Timothée Chalamet dan Lucas Hedges sebagai dua cowok yang bikin Lady Bird jatuh cinta juga pas banget—satu terlalu cool, satu terlalu baik. Bahkan Tracy Letts sebagai ayah yang depresi tapi lembut, dan Lois Smith sebagai suster sekolah yang bijak, semua terasa seperti orang yang kita kenal di dunia nyata.
Gaya Visual dan Humor yang Ringan tapi Ngena
Sinematografi sederhana, tapi setiap frame penuh detail tahun 2000-an awal: CD player, flip phone, poster band di kamar. Musik dipilih dengan cerdas—lagu-lagu Dave Matthews Band, Justin Timberlake, sampai John Cale di akhir—bikin nostalgia tanpa lebay. Humornya khas Gerwig: kering, cerdas, dan sering datang dari hal paling kecil—seperti Lady Bird bilang “aku cuma mau kamu jadi yang terbaik dari dirimu” dan ibunya jawab “kalau aku jadi yang terbaik, aku nggak akan di sini sama kamu”. Dialognya terasa seperti curhatan temen, bukan naskah film.
Kelebihan, Kekurangan, dan Kenapa Masih Dicintai
Kelebihan terbesar: kejujuran. Film ini nggak takut nunjukin ibu dan anak yang saling menyakiti tapi saling sayang banget. Nggak ada villain, nggak ada resolusi instan—hanya dua orang yang belajar saling memaafkan. Kekurangannya? Bisa terasa terlalu “putih” dan kelas menengah buat sebagian penonton, atau terlalu ringan buat yang cari drama besar. Tapi justru itu kekuatannya: dia nggak berusaha jadi sesuatu yang bukan dirinya.
Di 2025, Lady Bird tetap jadi comfort movie buat yang pernah merasa “aku nggak cocok di sini” atau yang pernah berantem sama ibu sampai nangis di kamar. Film ini bilang: boleh jadi Lady Bird yang keras kepala, asal jangan lupa pulang.
Kesimpulan
Lady Bird adalah film yang bikin kamu ketawa, nangis, lalu langsung telepon ibumu. Dia nggak sempurna, tapi itulah poinnya—remaja memang nggak sempurna, ibu juga nggak sempurna, tapi cinta mereka nyata. Kalau kamu belum nonton, tonton sekarang. Kalau sudah pernah, tonton lagi—setiap kali kamu akan menemukan detail baru yang bikin hati hangat. Karena pada akhirnya, Sacramento atau New York, kita semua cuma pengen didengar dan dicintai apa adanya. Dan Lady Bird berhasil bikin kita merasa itu semua dalam 94 menit.