Review Film Dahomey: Patung yang Kembali. Dahomey (2024), dokumenter karya sutradara seniman Benin Mati Diop, tetap menjadi salah satu karya dokumenter paling penting dan banyak dibicarakan di kalangan penikmat film dunia hingga awal 2026. Film berdurasi 67 menit ini memenangkan Golden Bear di Berlinale Februari 2024 dan sejak itu terus diputar di festival-festival besar serta platform streaming terbatas. Dahomey merekam peristiwa nyata kembalinya 26 artefak kerajaan Dahomey (sekarang Benin) dari Musée du Quai Branly di Paris ke Cotonou pada November 2021–Januari 2022—bagian dari repatriasi 26 patung dan benda kerajaan yang dicuri Prancis pada 1892 selama penaklukan kolonial. Dengan narasi yang sangat minimalis dan penggunaan suara hantu leluhur, film ini berhasil menjadi pernyataan kuat tentang dekolonisasi budaya, identitas Afrika, dan pertanyaan siapa yang berhak atas warisan sejarah. REVIEW FILM
Rekaman Proses Repatriasi yang Langsung dan Dingin: Review Film Dahomey: Patung yang Kembali
Film ini tidak menggunakan wawancara panjang atau narator konvensional. Hampir seluruh footage adalah rekaman langsung: proses pembongkaran patung-patung di museum Paris, pengemasan kayu dengan hati-hati, penerbangan khusus ke Cotonou, dan upacara penyambutan di Bandara Cotonou serta Istana Presiden Benin. Mati Diop sengaja membiarkan gambar berbicara sendiri—kita melihat tangan-tangan putih di Paris menyentuh artefak dengan sarung tangan, kontras dengan tangan-tangan hitam di Cotonou yang menyambut patung-patung itu seperti keluarga yang lama hilang.
Suara narasi yang paling kuat datang dari “roh” salah satu patung (disuarakan oleh perempuan Benin) yang berbicara dalam bahasa Fon—bahasa kerajaan Dahomey—dengan nada dingin dan penuh pertanyaan: “Mengapa aku dikembalikan sekarang? Apa yang kalian inginkan dariku setelah 130 tahun?”. Narasi ini muncul secara sporadis, membuat penonton merasa patung-patung itu “hidup” dan memiliki kesadaran atas perjalanan mereka sendiri.
Pertanyaan yang Menggantung: Untuk Siapa Repatriasi Ini?: Review Film Dahomey: Patung yang Kembali
Salah satu kekuatan terbesar film ini adalah bagaimana ia tidak merayakan repatriasi secara membabi buta. Mati Diop memasukkan rekaman debat mahasiswa di Universitas Abomey-Calavi, Benin. Beberapa mahasiswa mempertanyakan: “Mengapa hanya 26 dari ribuan artefak yang dicuri? Mengapa dikembalikan sekarang setelah 130 tahun? Apakah ini benar-benar untuk rakyat Benin, atau hanya simbol politik?”. Ada juga kritik bahwa patung-patung itu akan disimpan di museum presiden, bukan diakses publik secara luas.
Film ini tidak memberikan jawaban pasti; ia membiarkan pertanyaan-pertanyaan itu menggantung. Kita melihat kegembiraan warga saat patung tiba, tapi juga keraguan mahasiswa muda yang merasa repatriasi ini lebih untuk citra pemerintah daripada pemulihan hak budaya rakyat biasa. Pendekatan ini membuat Dahomey terasa sangat jujur dan tidak propagandistik.
Atmosfer dan Penggunaan Suara serta Gambar
Visual film sangat minimalis tapi kuat: close-up patung-patung yang dingin dan ekspresif, tangan-tangan yang menyentuh kayu pengemas, dan wajah-wajah warga Benin yang penuh campuran emosi. Tidak ada musik latar yang dramatis; hanya suara ambient bandara, kerumunan, dan angin malam di Cotonou. Suara narasi “roh” patung dalam bahasa Fon (dengan subtitle) menambah dimensi mistis tanpa terasa berlebihan—seolah artefak itu sendiri yang berbicara tentang perjalanan panjang mereka.
Kesimpulan
Dahomey adalah dokumenter yang pendek tapi sangat padat makna—menyajikan proses repatriasi artefak kolonial dengan cara yang dingin, jujur, dan penuh pertanyaan. Mati Diop berhasil menghindari jebakan sentimentalisme atau propaganda; ia membiarkan gambar dan suara berbicara sendiri, membuat penonton ikut merenung: apakah pengembalian 26 patung ini benar-benar pemulihan, atau hanya babak baru dalam cerita panjang kolonialisme? Film ini bukan tentang kemenangan besar, melainkan tentang luka yang masih terbuka dan pertanyaan yang belum terjawab. Hingga 2026, Dahomey tetap menjadi salah satu karya dokumenter paling penting tentang dekolonisasi budaya—sebuah pengingat bahwa benda-benda yang dicuri bukan hanya artefak, melainkan bagian dari identitas hidup yang pernah dirampas. Bagi siapa saja yang tertarik pada isu repatriasi, identitas Afrika, atau hubungan Prancis-Benin, film ini adalah tontonan wajib yang singkat tapi sangat menggugah. Sebuah karya kecil yang membawa beban sejarah besar, dan itulah kekuatan sejatinya.