Review Film Damsel: Putri yang Melawan Naga

Review Film Damsel: Putri yang Melawan Naga

Review Film Damsel: Putri yang Melawan Naga. Film “Damsel” yang tayang di Netflix sejak Maret 2024 telah menjadi pembicaraan di kalangan penggemar fantasi, dengan pendekatan segar pada dongeng klasik di mana putri bukan lagi korban pasif tapi pejuang tangguh. Disutradarai oleh Juan Carlos Fresnadillo, yang dikenal lewat “28 Weeks Later”, film ini menampilkan Millie Bobby Brown sebagai pemeran utama dalam peran yang menuntut aksi fisik dan emosional. Brown berperan sebagai Elodie, seorang putri bangsawan yang terjebak dalam tradisi mengerikan melibatkan naga raksasa. Dengan durasi sekitar 109 menit, “Damsel” menyajikan petualangan gelap penuh ketegangan, di mana tema pemberdayaan perempuan menjadi pusat cerita. Meski mengambil inspirasi dari mitos naga dan putri, film ini membalikkan trope damsel in distress, membuat Elodie harus mengandalkan kecerdasan dan keberaniannya sendiri untuk bertahan. Di tengah tren film fantasi pasca-pandemi, “Damsel” menawarkan visual memukau dan pesan tentang kekuatan diri, meski mendapat respons campuran dari kritikus. Bagi penggemar Millie Bobby Brown dari “Stranger Things”, ini adalah kesempatan melihatnya dalam genre baru, dengan elemen horor dan aksi yang membuatnya menonjol sebagai hiburan streaming yang menghibur. MAKNA LAGU

Sinopsis Cerita: Review Film Damsel: Putri yang Melawan Naga

Cerita dimulai di kerajaan yang dingin dan miskin, di mana Elodie, putri tertua Lord Bayford (Ray Winstone), hidup bersama ayahnya dan ibu tirinya, Lady Bayford (Angela Bassett). Untuk menyelamatkan rakyatnya dari kelaparan, Elodie setuju menikah dengan Pangeran Henry dari kerajaan Aurea yang kaya raya, yang dipimpin oleh Ratu Isabelle (Robin Wright). Pernikahan itu tampak seperti mimpi, dengan upacara mewah dan janji kehidupan bahagia. Namun, setelah upacara, Elodie dilemparkan ke gua gelap sebagai korban untuk naga ganas yang menghuni sana—sebuah tradisi kuno yang disembunyikan oleh keluarga kerajaan untuk membayar hutang masa lalu.
Terperangkap di labirin gua yang penuh jebakan dan api, Elodie harus berjuang sendirian melawan naga yang cerdas dan pendendam, disuarakan oleh Shohreh Aghdashloo. Ia menggunakan akalnya untuk bertahan: memanjat dinding licin, menghindari api, dan mencari jalan keluar sambil mengungkap rahasia keluarga kerajaan. Cerita menyentuh isu pengorbanan, pengkhianatan, dan penebusan, dengan twist yang mengungkap motif sebenarnya di balik tradisi itu. Naga bukan sekadar monster; ia memiliki backstory yang menambahkan lapisan emosional. Plot bergerak cepat dari romansa palsu ke survival intens, mirip campuran “The Descent” dan dongeng Grimm, tapi dengan fokus pada kekuatan perempuan. Meski predictable di beberapa bagian, narasi tetap menegangkan, didukung efek visual gua yang claustrophobic dan pertarungan epik.

Penampilan Para Pemain: Review Film Damsel: Putri yang Melawan Naga

Millie Bobby Brown menjadi bintang utama, membawa energi dinamis pada Elodie yang berubah dari putri naif menjadi pejuang gigih. Di usia 20 tahun, Brown tampil meyakinkan dalam adegan aksi fisik, seperti memanjat dan bertarung, meski sebagian besar syuting dilakukan di set dengan green screen. Penampilannya penuh emosi, terutama saat menunjukkan ketakutan dan tekad, membuat penonton rooting padanya. Ini adalah peran yang memperluas jangkauannya dari misteri remaja di “Enola Holmes” ke fantasi gelap, dengan timing komedi ringan di momen tegang.
Ray Winstone sebagai Lord Bayford memberikan kedalaman pada ayah yang terpecah antara cinta keluarga dan tanggung jawab kerajaan, dengan aksen tebal yang menambah autentisitas. Angela Bassett sebagai Lady Bayford tampil kuat sebagai figur ibu yang bijaksana, memberikan nasihat penting yang mendorong Elodie. Robin Wright sebagai Ratu Isabelle adalah antagonis dingin yang sempurna, dengan karisma jahat yang mengingatkan perannya di “House of Cards”. Shohreh Aghdashloo sebagai suara naga membawa nuansa mendalam, membuat makhluk itu terasa hidup dan kompleks, bukan sekadar ancaman. Ensemble cast saling melengkapi, meski waktu layar pendukung terbatas. Sutradara Fresnadillo berhasil mengarahkan mereka untuk fokus pada intensitas survival, dengan Brown sebagai jantung film yang membuat “Damsel” terasa segar meski formulaik.

Respons Kritikus dan Penonton

Respons terhadap “Damsel” cenderung campuran, mencerminkan kekuatan dan kelemahan film fantasi Netflix. Di Rotten Tomatoes, skor kritikus berada di sekitar 56 persen, dengan pujian atas performa Millie Bobby Brown yang disebut sebagai action hero menarik, tapi kritik atas cerita yang underpowered dan efek CGI yang kadang tak meyakinkan, terutama desain naga. Beberapa kritikus seperti dari Roger Ebert memuji visual spektakuler dan pendekatan perempuan pada dongeng familiar, menyebutnya layak ditonton untuk elemen fresh-nya. Namun, yang lain menganggap plot terlalu sederhana dan predictable, seperti campuran trope tanpa inovasi besar.
Penonton lebih positif, dengan skor audiens sekitar 59 persen dan rating IMDb di 6.1 dari ratusan ribu ulasan. Banyak yang memuji sebagai hiburan ringan yang empowering, terutama bagi remaja perempuan, dengan adegan survival yang menegangkan. Di media sosial, diskusi ramai tentang subversion trope putri, dengan beberapa membandingkannya dengan “The Princess” atau “Ready Player One”. Beberapa penonton mengkritik pacing lambat di awal dan akhir yang rushed, tapi secara keseluruhan, film ini sukses streaming, masuk top chart Netflix di banyak negara. Respons ini menunjukkan “Damsel” lebih cocok untuk mereka yang mencari petualangan santai daripada narasi mendalam, dengan Brown sebagai faktor utama yang menarik pemirsa.

Kesimpulan

“Damsel” berhasil menyajikan kisah putri yang melawan naga dengan sentuhan modern, meski tak sepenuhnya lolos dari klise fantasi. Dengan Millie Bobby Brown sebagai pusat yang kuat, film ini menawarkan petualangan menghibur penuh aksi dan pesan pemberdayaan. Bagi penggemar genre survival dan dongeng gelap, ini adalah tontonan Netflix yang layak, terutama untuk visual gua yang imersif dan twist emosional. Di era di mana cerita perempuan kuat semakin diminati, “Damsel” mengingatkan bahwa penyelamatan diri sendiri bisa jadi petualangan paling epik. Meski bukan masterpiece, ia tetap menyenangkan untuk akhir pekan, meninggalkan kesan tentang keberanian di tengah kegelapan.

BACA SELENGKAPNYA DI…

More From Author

Review Film Baby Reindeer: Kisah Nyata Menyeramkan

Review Film Baby Reindeer: Kisah Nyata Menyeramkan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

LINK ALTERNATIF: