review-film-once-upon-a-time-in-hollywood

Review Film Once Upon A Time in Hollywood

Review Film Once Upon A Time in Hollywood. Akhir November 2025, Once Upon a Time in Hollywood kembali naik daun setelah versi extended cut 4K dirilis di bioskop terbatas dan masuk katalog streaming premium. Film kesembilan Quentin Tarantino yang rilis tahun 2019 ini masih terasa seperti surat cinta paling pribadi sang sutradara untuk era keemasan Hollywood—tahun 1969, saat western TV mulai redup dan bau darah Manson mulai tercium. Dengan Leonardo DiCaprio, Brad Pitt, dan Margot Robbie di puncak performa, film ini bukan sekadar nostalgia; ia dongeng alternatif yang cerdas, lucu, dan di akhir sangat brutal. MAKNA LAGU

Cerita yang Santai Tapi Penuh Tegang: Review Film Once Upon A Time in Hollywood

Rick Dalton, aktor western yang karirnya meredup, dan Cliff Booth, stuntman sekaligus sahabat setianya, berjuang bertahan di Hollywood yang berubah cepat. Di sebelah rumah Rick tinggal Roman Polanski dan Sharon Tate—bintang yang sedang naik daun. Film ini seperti hangout movie panjang: kita ikut Rick syuting serial baru, Cliff perbaiki antena sambil denger radio, Sharon jalan-jalan ke bioskop lihat dirinya sendiri di layar. Tarantino sengaja bikin 2 jam pertama terasa ringan, penuh referensi film lama, iklan rokok jadul, dan musik 60-an yang bikin pengen joget. Tapi di balik semua itu, bayangan keluarga Manson terus mengintai, dan penonton tahu ending sejarah yang sebenarnya—sampai Tarantino memutuskan menulis ulang sejarah dengan cara paling gila dan memuaskan.

Akting yang Bikin Takjub: Review Film Once Upon A Time in Hollywood

Leonardo DiCaprio sebagai Rick Dalton adalah masterclass: dari aktor gugup yang lupa dialog sampai ledakan emosi di trailer, ia bikin kita kasihan sekaligus kagum. Brad Pitt sebagai Cliff Booth malah lebih santai—cool, cuek, tapi ada aura bahaya yang tersembunyi di balik senyumnya. Adegan Cliff lawan Bruce Lee atau kunjungan ke Spahn Ranch jadi bukti Pitt bisa bikin karakter pendiam terasa besar. Margot Robbie sebagai Sharon Tate punya screen time lebih sedikit, tapi setiap kemunculannya terasa seperti sinar matahari—ia berhasil bikin Tate jadi simbol innocence yang harus dilindungi. Chemistry DiCaprio-Pitt adalah salah satu bromance terbaik di layar besar.

Visual, Musik, dan Revisi Sejarah

Los Angeles 1969 direka ulang dengan detail gila: billboard, mobil klasik, neon sign, sampai bau asap knalpot terasa nyata. Tarantino pakai 35 mm dan 70 mm bergantian, bikin film ini terasa seperti menonton klasik sungguhan. Playlist radio KHJ dengan lagu-lagu 60-an jadi karakter sendiri—dari “Mrs. Robinson” sampai “You Keep Me Hangin’ On”. Klimaks 30 menit terakhir adalah Tarantino paling liar: kekerasan kartun yang bikin penonton tertawa sambil menutup mata, sekaligus pelepasan emosi setelah dua jam tegang menunggu tragedi yang akhirnya tak pernah datang seperti sejarah asli.

Kesimpulan

Once Upon a Time in Hollywood adalah Tarantino yang paling dewasa sekaligus paling nakal: ia kasih kita Hollywood yang kita impikan, bukan yang benar-benar terjadi. Di akhir 2025, ketika kita lelah dengan film superhero dan reboot, film ini seperti napas segar—cerita tentang persahabatan, tentang akhir era, dan tentang kekuatan fiksi untuk menulis ulang luka sejarah. Nonton ulang malam ini, dan kau akan pulang dengan senyum lebar, kaki berdarah-darah imajiner, dan rasa syukur bahwa di dunia Tarantino, kadang-kadang para pahlawan menang dengan cara paling absurd dan paling memuaskan.

BACA SELENGKAPNYA DI…

More From Author

review-film-lady-bird

Review Film Lady Bird

review-film-toni-erdmann

Review Film Toni Erdmann

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

LINK ALTERNATIF: