Review Film Raya and the Last Dragon. Film Raya and the Last Dragon yang tayang pada awal 2021 tetap menjadi salah satu animasi paling segar dan bermakna dari studio besar di era modern, di mana cerita mengambil inspirasi kuat dari budaya Asia Tenggara khususnya Nusantara serta Vietnam sehingga menghadirkan dunia fantasi yang kaya warna, mitologi, serta nilai kekeluargaan yang dalam, disutradarai oleh Don Hall dan Carlos López Estrada bersama tim multikultural film ini berhasil menyuguhkan petualangan aksi yang dinamis sekaligus pesan tentang kepercayaan serta persatuan di tengah perpecahan, dengan durasi sekitar satu jam lima puluh menit film ini terasa ringkas namun padat karena setiap adegan dibangun untuk memperkuat perjalanan emosional Raya sebagai putri terakhir dari suku Heart yang berusaha menyatukan kembali lima suku Kumandra yang terpecah akibat serangan Druun, hingga kini di tahun 2026 film ini masih sering ditonton ulang sebagai tontonan keluarga yang menghibur sekaligus mengajarkan nilai penting tentang memaafkan serta membangun kepercayaan di tengah dunia yang semakin terpolarisasi, membuatnya bukan sekadar animasi petualangan melainkan cerminan harapan akan persatuan lintas budaya. MAKNA LAGU
Visual dan Desain Dunia yang Memukau: Review Film Raya and the Last Dragon
Salah satu kekuatan terbesar film ini terletak pada visual serta desain dunia yang sangat kaya detail serta autentik dalam mengadaptasi elemen budaya Asia Tenggara, pemandangan desa-desa yang terinspirasi arsitektur tradisional seperti rumah panggung, pasar terapung, serta kuil-kuil batu terasa hidup dan berwarna-warni sehingga setiap lokasi memberikan rasa tempat yang berbeda namun tetap menyatu dalam satu benua Kumandra, animasi karakter manusia serta naga terlihat halus dengan gerakan yang ekspresif terutama ekspresi wajah Raya yang penuh keraguan serta tekad, Sisu sebagai naga air terakhir berhasil menjadi karakter yang sangat menyenangkan karena desainnya yang lentur serta warna biru cerah yang kontras dengan latar belakang, adegan aksi seperti kejar-kejaran di atas air serta pertarungan melawan Druun terasa dinamis dan kreatif karena memanfaatkan elemen air, batu, serta tumbuhan secara cerdas, pencahayaan serta palet warna yang hangat juga patut dipuji karena berhasil menciptakan nuansa magis sekaligus realistis, musik yang menggabungkan instrumen tradisional Asia Tenggara dengan orkestra modern semakin memperkuat setiap momen sehingga pengalaman menonton terasa benar-benar imersif dan memuaskan secara visual.
Karakter dan Perkembangan Emosional: Review Film Raya and the Last Dragon
Raya sebagai tokoh utama dibangun dengan sangat baik sebagai pahlawan yang kompleks karena ia membawa trauma masa kecil akibat pengkhianatan yang membuatnya sulit mempercayai orang lain, perjalanannya dari sikap waspada serta sinis menjadi seseorang yang berani membuka hati terasa alami dan emosional sehingga penonton bisa ikut merasakan pergolakan batinnya, Sisu sebagai naga yang optimis serta penuh humor menjadi penyeimbang sempurna karena sikapnya yang polos serta percaya pada kebaikan manusia memberikan kontras menarik dengan kepribadian Raya, karakter pendukung seperti Namari, Tong, Boun, serta Noi juga diberi ruang untuk berkembang meskipun durasi terbatas sehingga masing-masing punya motivasi serta pesona unik yang membuat kelompok ini terasa seperti keluarga baru yang terbentuk dari perbedaan, hubungan ayah-anak antara Raya dan Benja menjadi salah satu elemen paling menyentuh karena menunjukkan bagaimana warisan nilai perdamaian terus hidup meskipun orang tua sudah tiada, secara keseluruhan pengembangan karakter ini membuat film terasa lebih dari sekadar petualangan karena penonton ikut merasakan proses penyembuhan serta pembelajaran tentang kepercayaan yang menjadi inti cerita.
Cerita dan Pesan yang Disampaikan
Cerita mengikuti misi Raya untuk mencari Sisu serta mengembalikan permata Dragon yang bisa menyatukan kembali Kumandra dari ancaman Druun yang mengubah segala makhluk hidup menjadi batu, konflik utama bukan hanya melawan musuh eksternal melainkan juga prasangka serta dendam antar suku yang selama ini memecah belah mereka, pesan tentang kepercayaan menjadi tema sentral di mana Raya belajar bahwa persatuan hanya mungkin jika setiap orang berani mengambil langkah pertama untuk mempercayai meskipun ada risiko dikhianati lagi, film ini juga menyiratkan nilai gotong royong serta pentingnya memaafkan masa lalu demi masa depan yang lebih baik sehingga terasa sangat relevan dengan isu-isu sosial saat ini, meskipun ada beberapa momen yang terasa agak cepat dalam resolusi akhir pendekatan itu justru membuat pesannya tetap kuat serta tidak terlalu menggurui, sehingga secara keseluruhan narasi ini berhasil menjadi cerita petualangan yang menghibur sekaligus mengajak penonton merenung tentang bagaimana kepercayaan serta empati bisa menyembuhkan luka lama dan membangun dunia yang lebih harmonis.
Kesimpulan
Secara keseluruhan Raya and the Last Dragon berhasil menjadi animasi yang indah, menghibur, serta bermakna dengan menggabungkan visual memukau, karakter yang relatable, serta pesan tentang kepercayaan serta persatuan yang disampaikan dengan cara yang tulus dan tidak berlebihan, film ini membuktikan bahwa cerita dengan akar budaya kuat bisa menjadi tontonan universal yang menyentuh hati lintas usia serta latar belakang, meskipun bukan tanpa kekurangan kecil seperti pacing yang kadang terasa terburu-buru di bagian akhir film ini tetap menjadi salah satu animasi terbaik yang patut ditonton ulang karena setiap kali terasa ada lapisan baru yang bisa ditemukan, bagi siapa saja yang menyukai petualangan dengan makna mendalam serta representasi budaya Asia Tenggara yang hormat film ini layak mendapat tempat spesial di daftar tontonan keluarga, dan di tengah banyak cerita fantasi yang serupa film ini menonjol karena berhasil menyatukan aksi seru dengan hati yang hangat serta harapan akan dunia yang lebih baik melalui keberanian mempercayai satu sama lain.