Review Film Drive My Car: Drama Mendalam Kore-eda Style. Drive My Car karya Ryusuke Hamaguchi yang tayang pada 2021 tetap menjadi salah satu drama paling mendalam dan penuh perasaan dalam sinema kontemporer. Diadaptasi dari cerpen Haruki Murakami, film ini mengikuti Yusuke Kafuku (Hidetoshi Nishijima), seorang aktor dan sutradara teater yang berduka atas kematian istri tercintanya Oto (Reika Kirishima). Dua tahun kemudian, ia menerima tawaran menyutradarai Uncle Vanya di teater festival Hiroshima dan mendapat sopir pribadi berusia muda, Misaki Watari (Toko Miura). Dengan durasi 179 menit, Hamaguchi menciptakan karya lambat, penuh keheningan, dan dialog yang sangat berbobot—sebuah perjalanan tentang duka, pengampunan, dan menemukan kembali makna hidup melalui seni teater. Hampir lima tahun setelah rilis, di tengah maraknya drama pendek dan cepat pada 2026, Drive My Car masih terasa sebagai salah satu film paling sabar dan menyembuhkan: sebuah pengingat bahwa penyembuhan sering datang melalui proses panjang dan percakapan yang jujur. INFO GAME
Sinematografi dan Ritme yang Tenang di Film Drive My Car: Review Film Drive My Car: Drama Mendalam Kore-eda Style
Ryusuke Hamaguchi dan sinematografer Hidetoshi Shinomiya membangun film dengan ritme yang sangat lambat namun penuh perhatian. Hampir sepertiga film berlangsung di dalam mobil Saab merah milik Kafuku—ruang kecil yang menjadi tempat percakapan paling intim antara Kafuku dan Misaki. Penggunaan long take di jalanan Hiroshima yang sepi, hujan ringan, dan pemandangan kota yang tenang menciptakan rasa waktu yang mengalir perlahan. Adegan latihan teater Uncle Vanya—baik dalam bahasa Jepang, Mandarin, Korea, maupun bahasa isyarat—menjadi metafor indah tentang bagaimana seni bisa menyatukan orang yang berbeda latar belakang dan bahasa. Musik Eiko Ishibashi yang minimalis, dengan nada piano yang dingin dan suara ambient yang halus, memperkuat keheningan emosional tanpa pernah mendominasi. Tidak ada musik dramatis yang memaksa tangis; Hamaguchi membiarkan emosi tumbuh dari keheningan, tatapan mata, dan jeda panjang antar dialog—teknik yang membuat penonton merasakan duka dan harapan secara perlahan tapi sangat dalam.
Tema Duka, Pengampunan, dan Penyembuhan melalui Seni Film Drive My Car: Review Film Drive My Car: Drama Mendalam Kore-eda Style
Inti Drive My Car adalah proses duka yang tidak pernah benar-benar selesai. Kafuku masih membawa kaset rekaman suara istri Oto yang membacakan naskah cerita pendeknya—sebuah cara untuk tetap “berbicara” dengannya setiap hari. Saat ia mulai mengenal Misaki, yang juga membawa luka masa lalu, keduanya saling membuka diri melalui percakapan panjang di mobil: tentang kehilangan, rasa bersalah, dan ketakutan untuk mencintai lagi. Teater Uncle Vanya menjadi cermin: karakter yang berduka, yang kehilangan, yang mencari makna—sama seperti Kafuku dan Misaki. Film ini tidak memberikan penyembuhan instan atau akhir bahagia yang manis; ia menunjukkan bahwa duka adalah proses seumur hidup, tapi seni dan hubungan manusiawi bisa menjadi tempat untuk menyimpan luka itu tanpa harus disembunyikan. Di era sekarang, ketika banyak orang merasa terisolasi meski terhubung secara digital, pesan film ini terasa sangat kuat: penyembuhan sering datang dari percakapan panjang, keheningan bersama, dan keberanian untuk tetap membuka hati meski pernah terluka.
Warisan dan Pengaruh yang Luas
Drive My Car memenangkan Academy Award untuk Best International Feature Film pada 2022 dan menjadi film Jepang pertama yang memenangkan Oscar di kategori itu sejak Departures (2008). Film ini juga mendapat nominasi Best Picture, Best Director, dan Best Adapted Screenplay—bukti bahwa karya non-Inggris bisa bersaing di level tertinggi. Pengaruhnya terasa di banyak film dan serial yang kemudian mengeksplorasi tema duka dan penyembuhan melalui seni—dari karya-karya Kore-eda hingga drama seperti The Bear atau Succession. Restorasi dan penayangan ulang di bioskop arthouse serta platform streaming terus menarik penonton baru, terutama di kalangan yang mencari cerita dewasa tentang kehilangan dan penerimaan diri. Di 2026, ketika kesehatan mental dan proses grieving semakin dibicarakan terbuka, Drive My Car sering disebut kembali sebagai salah satu film yang paling berhasil menggambarkan duka dengan kepekaan dan kesabaran luar biasa.
Kesimpulan
Drive My Car adalah drama yang lambat namun sangat mendalam—sebuah perjalanan panjang tentang duka, pengampunan, dan menemukan kembali makna hidup melalui seni dan hubungan manusiawi. Ryusuke Hamaguchi berhasil menciptakan film yang tidak memaksa emosi, tapi membiarkan penonton merasakan setiap lapis luka dan harapan secara perlahan. Hampir lima tahun berlalu, film ini masih relevan karena mengingatkan bahwa penyembuhan bukan proses cepat; ia butuh waktu, keheningan, dan keberanian untuk terus membuka diri meski pernah terluka. Jika Anda belum menonton ulang atau baru pertama kali, siapkan waktu tiga jam dan tisu—karena setelah kredit bergulir, Anda mungkin akan memeluk orang terdekat lebih erat atau sekadar duduk diam sambil mendengar suara hujan. Karena seperti yang Kafuku pelajari: hidup adalah panggung panjang, tapi kadang yang paling berharga adalah momen-momen kecil di dalam mobil, saat kita akhirnya berani berbicara jujur. Sebuah film yang tak hanya indah, tapi juga sangat menyembuhkan.