Review Film Decision to Leave: Romansa Thriller Korea. Decision to Leave (헤어질 결심) karya sutradara Park Chan-wook yang rilis tahun 2022 masih sering disebut sebagai salah satu film romansa-thriller Korea paling elegan dan menggugah dalam beberapa tahun terakhir. Film ini berhasil memenangkan penghargaan Best Director di Festival Film Cannes 2022 dan mendapat nominasi Oscar untuk Best International Feature Film. Dengan rating 94% di Rotten Tomatoes (kritikus) dan 82% dari penonton, serta skor 7.3/10 di IMDb, Decision to Leave menggabungkan elemen noir klasik, misteri pembunuhan, dan romansa yang rumit dengan sangat apik. Park Chan-wook, yang dikenal lewat trilogi balas dendam (Oldboy, Sympathy for Mr. Vengeance, Lady Vengeance), kali ini membawa gaya visualnya yang khas ke dalam cerita detektif yang penuh emosi dan ambiguitas. Film ini bukan horor atau thriller biasa—ia lebih mirip permainan psikologis yang bikin penonton terus bertanya-tanya: siapa yang sebenarnya jatuh cinta, dan siapa yang sedang dimanipulasi? MAKNA LAGU
Kekuatan Narasi dan Atmosfer yang Menggoda: Review Film Decision to Leave: Romansa Thriller Korea
Cerita berpusat pada Hae-joon (Park Hae-il), detektif polisi yang sedang menyelidiki kematian misterius seorang pria kaya yang jatuh dari tebing. Istri korban, Seo-rae (Tang Wei), menjadi tersangka utama—wanita asal Tiongkok yang terlihat dingin tapi sangat menarik. Semakin lama Hae-joon mengamati Seo-rae, semakin ia terpikat, hingga batas antara tugas investigasi dan perasaan pribadi mulai kabur. Yang membuat film ini istimewa adalah cara Park Chan-wook membangun ketegangan secara perlahan. Tidak ada kejar-kejaran mobil atau adegan aksi besar—semua ketegangan datang dari tatapan mata, jeda diam panjang, dan dialog yang terasa penuh makna tersembunyi. Atmosfernya dingin dan melankolis: hujan deras di malam hari, pantai yang sepi, dan musik latar minimalis yang menekan saraf. Penonton diajak meragukan apa yang dilihat—apakah Seo-rae pembunuh, apakah Hae-joon sedang jatuh cinta, atau keduanya sedang dimainkan oleh sesuatu yang lebih besar?
Performa Aktor yang Sangat Kuat: Review Film Decision to Leave: Romansa Thriller Korea
Park Hae-il sebagai Hae-joon memberikan penampilan yang sangat halus: dari detektif profesional yang tenang, menjadi pria yang perlahan kehilangan kendali karena obsesi. Ekspresi wajahnya penuh konflik internal—rasa curiga, rasa bersalah, dan hasrat yang tak terucap. Tang Wei sebagai Seo-rae adalah casting sempurna: dingin, misterius, tapi punya kerapuhan yang membuat penonton ikut simpati. Chemistry antara keduanya terasa sangat nyata meski minim dialog romantis—semua datang dari tatapan mata dan gerakan kecil yang sangat bermakna. Karakter pendukung seperti istri Hae-joon (Jung-an) dan rekan kerjanya juga ditulis dengan baik—mereka tidak sekadar pelengkap, tapi menambah lapisan emosional pada konflik utama.
Visual, Sound, dan Teknik Sinematik
Sinematografi Kim Ji-yong sangat memukau: penggunaan warna dingin, long take yang lambat, dan komposisi frame yang simetris membuat setiap adegan terasa seperti lukisan yang gelap dan penuh teka-teki. Adegan ikonik seperti pantai malam hari dengan kabut, atau saat Hae-joon mengamati Seo-rae melalui jendela, masih jadi momen paling membekas dalam sinema Korea modern. Sound design dan scoring karya Jo Yeong-wook sangat minimalis tapi efektif: suara angin, deru ombak, dan musik latar piano yang haunting membuat keheningan terasa lebih menakutkan daripada suara keras. Tidak ada jumpscare—ketakutan datang dari rasa tidak nyaman psikologis dan pertanyaan yang tak pernah terjawab.
Warisan dan Mengapa Masih Relevan
Decision to Leave berhasil membuktikan bahwa thriller romansa bisa sangat cerdas dan atmosferik tanpa mengandalkan kekerasan berlebihan atau plot twist murahan. Film ini juga memperkuat posisi Park Chan-wook sebagai salah satu sutradara terbaik Korea saat ini—ia mampu menggabungkan gaya noir klasik dengan sentuhan modern yang sangat Korea. Di Indonesia, film ini tayang sukses di bioskop dan menjadi salah satu film Korea terlaris tahun 2022–2023 di platform streaming. Banyak penonton mengaku merasa gelisah berhari-hari setelah menonton karena endingnya yang ambigu dan terbuka—tidak ada jawaban pasti, hanya pertanyaan yang terus bergema.
Kesimpulan
Decision to Leave pantas disebut sebagai salah satu thriller romansa Korea paling menggugah dan cerdas dalam beberapa tahun terakhir. Dengan atmosfer mencekam, performa aktor luar biasa, misteri yang tak pernah benar-benar terjawab, dan kritik sosial yang halus, film ini berhasil menciptakan pengalaman sinematik yang sulit dilupakan. Jika Anda mencari film dengan ending jelas atau aksi cepat, mungkin akan kecewa. Tapi jika Anda siap merasa gelisah, meragukan apa yang dilihat, dan terus memikirkan film ini berhari-hari setelah selesai, Decision to Leave adalah pilihan tepat. Bagi penggemar sinema Korea, film ini wajib ditonton—dan bagi yang sudah menonton berkali-kali, setiap ulang tahun rilisnya tetap terasa seperti pukulan baru. Decision to Leave bukan sekadar film—ia adalah pengalaman psikologis yang meninggalkan bekas permanen. Layak ditonton sekali seumur hidup, tapi efeknya bertahan selamanya.