Review Film Blitz: Steve McQueen Perang Dunia II. Blitz karya Steve McQueen yang tayang sejak akhir 2024 tetap menjadi salah satu film perang paling emosional dan dibicarakan hingga awal 2026. Berlatar London selama The Blitz (pemboman Jerman tahun 1940–1941), film ini mengisahkan perjuangan seorang ibu tunggal bernama Rita (Saoirse Ronan) yang berusaha melindungi anak laki-lakinya George (Elliott Heffernan) di tengah kekacauan perang. Dengan durasi 120 menit, film ini berhasil menggabungkan elemen drama keluarga, survival, dan sejarah dengan pendekatan yang sangat manusiawi. Rating Rotten Tomatoes mencapai 87% dari kritikus dan 85% dari penonton, sementara box office global sudah tembus US$180 juta hingga Januari 2026. Apakah Blitz benar-benar berhasil jadi potret perang yang menyentuh hati, atau malah terasa terlalu konvensional? INFO PROPERTI
Pendekatan Emosional dan Visual yang Kuat di Film Blitz: Review Film Blitz: Steve McQueen Perang Dunia II
Steve McQueen memilih fokus pada perspektif anak kecil dan ibunya, bukan pada pertempuran besar atau strategi militer. George kecil yang berusia 9 tahun menjadi mata dan hati penonton—ia melihat dunia perang melalui rasa takut, kebingungan, dan keberanian anak-anak. Adegan George berlari melewati reruntuhan London yang terbakar, atau bersembunyi di bawah meja saat sirene meraung, terasa sangat nyata dan menyayat hati. Visual film ini sangat kuat meski tidak bergantung pada efek besar. McQueen menggunakan warna-warna dingin dan abu-abu untuk menangkap suasana London yang hancur, tapi sesekali menyisipkan momen hangat dengan cahaya kuning lilin dan api unggun di tempat perlindungan. Cinematografi Yorick Le Saux menangkap detail kecil dengan sangat indah: debu beterbangan, tangan kotor anak-anak, dan wajah ibu yang lelah tapi penuh tekad. Musik Hans Zimmer minimalis tapi menghantui—hanya string rendah dan suara sirene yang membuat ketegangan terasa konstan.
Performa Saoirse Ronan dan Cast Muda: Review Film Blitz: Steve McQueen Perang Dunia II
Saoirse Ronan sebagai Rita memberikan penampilan yang sangat kuat dan penuh empati. Ia berhasil membawa karakter ibu tunggal yang tegar tapi rapuh—ekspresi wajahnya saat harus meninggalkan anaknya untuk bekerja, atau saat ia mendengar bom jatuh di kejauhan, terasa sangat menyentuh. Ronan juga menunjukkan sisi marah dan putus asa yang jarang terlihat di perannya sebelumnya. Elliott Heffernan sebagai George kecil mencuri perhatian—ia berhasil membawa rasa takut dan keberanian anak-anak dengan sangat alami. Chemistry antara Ronan dan Heffernan terasa seperti ibu dan anak sungguhan—ada momen pelukan, pertengkaran kecil, dan kehangatan yang membuat penonton ikut merasakan ikatan mereka. Cast pendukung seperti Harris Dickinson sebagai ayah George dan Kathy Burke sebagai tetangga juga menambah kedalaman emosional meski waktu layar terbatas.
Kelemahan Pacing dan Pendekatan Naratif
Meski emosional dan visual kuat, film ini punya kelemahan di pacing yang agak tidak merata. Babak tengah terasa sedikit lambat karena terlalu banyak fokus pada rutinitas sehari-hari di tengah perang tanpa cukup konflik besar yang maju plot. Beberapa adegan terasa repetitif—bom jatuh, lari ke shelter, kembali ke rumah—tanpa variasi yang cukup. Ada juga kritik bahwa cerita terlalu bergantung pada perspektif anak kecil sehingga kurang punya kedalaman politik atau sejarah yang lebih luas. Dibandingkan film perang seperti Dunkirk (yang lebih dingin dan teknis) atau 1917 (yang sangat intens), Blitz terasa lebih hangat dan berfokus pada keluarga—lebih dekat ke drama keluarga daripada film perang klasik.
Respon Penonton dan Dampak
Penonton Indonesia yang menyukai drama berbasis sejarah dan cerita keluarga menyambut sangat positif—film ini laris di bioskop-bioskop indie dan platform streaming, dengan banyak diskusi soal performa Saoirse Ronan dan tema ketahanan keluarga di masa perang. Box office US$180 juta (dengan proyeksi akhir US$250–300 juta) tunjukkan sukses komersial untuk film drama perang. Di media sosial, klip momen ibu-anak di shelter dan adegan akhir jadi viral. Film ini juga membuka diskusi soal dampak perang terhadap anak-anak, ketahanan perempuan, dan bagaimana sejarah masih relevan hari ini. Banyak yang bilang ini salah satu film paling emosional 2025 dan layak dapat pujian atas keberaniannya fokus pada perspektif manusia biasa di tengah perang besar.
Kesimpulan
The Blitz adalah drama perang yang berhasil menyentuh hati dengan cara sederhana tapi sangat kuat. Saoirse Ronan dan Elliott Heffernan memberikan performa luar biasa sebagai ibu dan anak di tengah kekacauan perang, visual dan sinematografi memukau, serta cerita penuh empati membuat film ini layak ditonton. Meski pacing tengah agak lambat dan cerita kurang inovatif dibanding film perang modern, film ini tetap jadi salah satu drama terbaik 2025 yang hangat dan mengharukan. Worth it? Sangat—terutama kalau kamu suka cerita keluarga di tengah sejarah dengan sentuhan emosi yang tulus. Kalau suka The Pianist, Empire of the Sun, atau The Boy in the Striped Pajamas, ini wajib. Nonton kalau belum—siapkan tisu untuk momen akhir yang menyentuh. Steve McQueen lagi tunjukkan kenapa ia salah satu sutradara paling penting saat ini. Film ini menyentuh hati—dan itulah yang membuatnya spesial.