Review Film Dilan 1991. Film Dilan 1991 yang rilis pada 2019 kembali ramai dibahas di awal 2026. Sekuel dari Dilan 1990 ini baru saja tayang perdana di televisi nasional pada akhir Desember 2025, menyambut pergantian tahun dan langsung menuai antusiasme penonton. Diadaptasi dari novel kedua karya Pidi Baiq, film ini melanjutkan kisah romansa remaja Dilan dan Milea dengan konflik lebih dalam. Saat pertama tayang di bioskop, karya ini sukses besar dengan lebih dari 5,2 juta penonton, menjadikannya salah satu film Indonesia terlaris. Hingga kini, pesona nostalgia era 1990-an dan drama cintanya masih kuat menarik generasi lama maupun baru. TIPS MASAK
Plot dan Karakter Utama: Review Film Dilan 1991
Cerita berlanjut dari akhir 1990, saat Dilan dan Milea resmi berpacaran pada 22 Desember. Kebahagiaan mereka terganggu karena Dilan semakin dalam terlibat geng motor sekolah, sering berkelahi hingga terancam dikeluarkan. Milea khawatir masa depan Dilan, memintanya memilih antara geng atau hubungan mereka. Konflik memuncak saat sahabat Dilan tewas dikeroyok, memicu rencana balas dendam. Muncul pula Yugo, sepupu jauh Milea yang baru pulang dari luar negeri dan mendekatinya.
Iqbaal Ramadhan kembali memerankan Dilan dengan karisma pemberontak tapi romantis, sementara Vanesha Prescilla sebagai Milea tampil matang menunjukkan kekhawatiran dan ketegasan. Karakter pendukung seperti Anhar, Akew, dan orang tua mereka menambah lapisan emosi. Chemistry kedua aktor utama tetap solid, membuat penonton ikut tegang dengan pilihan sulit yang dihadapi pasangan ini.
Elemen Drama dan Nostalgia: Review Film Dilan 1991
Dilan 1991 lebih gelap dibanding pendahulunya, fokus pada ujian hubungan remaja di tengah solidaritas geng dan tekanan masa depan. Gombalan khas Dilan masih ada, tapi dikurangi untuk memberi ruang konflik nyata seperti perkelahian, pengkhianatan, dan perpisahan. Nostalgia era 1991 kuat melalui latar Bandung, motor klasik, telepon umum, hingga suasana sekolah tanpa gadget modern.
Disutradarai Fajar Bustomi dan Pidi Baiq, film ini menyajikan tempo lebih dinamis dengan adegan emosional yang mendalam. Musik pendukung menyentuh, memperkuat nuansa haru dan manis pahitnya cinta pertama. Elemen ini membuat cerita terasa relatable, terutama bagi yang pernah mengalami dilema serupa di masa remaja.
Kelebihan dan Kritik
Film ini dipuji karena pengembangan karakter lebih matang, akting Iqbaal dan Vanesha yang semakin natural, serta pesan tentang konsekuensi pilihan hidup. Banyak penonton terharu dengan bagian akhir yang bittersweet, plus humor ringan dari karakter pendukung. Kesuksesan box office membuktikan formula romansa remaja ini masih ampuh.
Namun, beberapa kritik bilang alur terlalu dramatis dan predictable, dengan gombalan Dilan yang berkurang membuat kurang fun dibanding film pertama. Penggambaran geng motor kadang terasa ringan, dan durasi panjang membuat sebagian adegan agak lambat. Meski begitu, kekurangan ini tak menyurutkan daya tarik keseluruhan sebagai drama remaja berkualitas.
Kesimpulan
Dilan 1991 berhasil melanjutkan warisan pendahulunya dengan cerita lebih dewasa dan emosional. Di awal 2026 ini, tayangan ulangnya mengingatkan bahwa cinta remaja penuh ujian, dari manisnya gombalan hingga pahitnya perpisahan. Dengan nostalgia kuat dan performa aktor memikat, film ini cocok ditonton ulang untuk merasakan kembali degupan hati masa SMA. Secara keseluruhan, ini adalah sekuel solid yang abadi, mengajarkan arti memilih antara hati dan solidaritas dalam perjalanan cinta.